Sabtu, 07 Juni 2008

Kelapa Aren



Bincang Usaha Wirausaha: 01 Juni 2008


Akademisi: Dias dan Dimas



Reviewer: Ramaniko


Kelapa Aren

Company Profile
Kelapa Aren adalah UKM yang bergerak di bidang kerajinan dari pohon kelapa, produksinya berupa alat-alat rumah tangga dan kantor, seperti asbak kayu, piring kayu, mangkok kayu, dan gelas kayu. UKM ini berlokasi di gamping dekat STIKES A Yani dan sudah berdiri sejak tahun 1996. Awal mula berdirinya UKM ini, pada waktu itu ada turis Australia yang sedang mencari pengrajin yang dapat membuat piring dari kayu, kemudian berdirilah UKM ini untuk memenuhi permintaan konsumen tersebut.
Proses produksinya berawal dari design produk, kemudian ada yang memotong kayu gelondongan menjadi potongan-potongan kecil, mengeruk (ngroak) kayu, bubut, dan mengamplas kayu, semuanya dikerjakan dengan mesin.
Sistem Kerja dan Pemasaran
Ada dua sistem kerja yang diterapkan, yaitu borongan dan harian. Transaksi barang dapat dilakukan melalui direct cash dan online (transfer bank), karena UKM ini juga melakukan pemasarannya melalui internet, dapat dibuka di alamat situs kelapa-aren.co.cc. Selain itu, pemasaran dilakukan melalui pameran yang diadakan secara berkala tiap tahunnya. Pameran merupakan salah satu metode pemasaran yang paling tepat untuk usaha kerajinan ini karena biasanya para pengunjung pemeran banyak yang berasal dari mancanegara.
Peluang dan rekomendasi
Produk UKM ini dipasarkan di pasar domestic maupun di mancanegara. Peluang yang dimiliki dari usaha ini adalah pasar Eropa, karena konsumen di Eropa mulai beralih ke baarang-barang yang aman buat lingkungan dan terbuat dari alam, dan produk Kelapa Aren sangat cocok dengan situasi pasar di Eropa untuk saat ini.

Senin, 07 April 2008


Review Bincang Wira Usaha 07-04-08
Narasumber : Guntur
Akademisi : Oka dan Doktrin
Reviewer : Ramaniko

Fotografi

Apa Itu Fotografi?
Fotografi adalah proses pembuatan
lukisan dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.

Bagaimana Membangun Bisnis Fotografi?
Bisnis fotografi bagi pemula bisa jadi diawali dengan rugi dulu, dalam hal ini disebabkan kurangnya skill dalam hal fotografi. Akan tetapi, hal ini tidak jadi masalah, karena beberapa kegagalan atau kekurangan tersebut bisa menjadi merupakan batu loncatan kedepan dan seiring berjalannya usaha dapat menambah skill itu sendiri.
Sebagai gambaran dalam membangun bisnis fotografi ini, hal pertama yang paling penting adalah foto itu sendiri, kemudian skill dan modal semuanya dapat menyusul. Biasanya berawal dari hobi terus dikembangkan jadi usaha, jadi tidak ada paksaan untuk bekerja. Awal usaha yang dapat dikembangkan dari fotografi ini modal, ada dua jenis modal, tangible (berbentuk atau alat itu sendiri) dan intangible (skill fotografi). Selain itu, di dalam bisnis fotografi berkaitan dengan teknologi, dan ini memiliki PLC (Product Life Cycle) yang pendek, maka dari itu fotografer harus memiliki banyak inovasi agar produknya jadi lebih menarik seara berkala.

Untuk fotografer baru, agar lebih sering sharing dengan senior-seniornya, gabung forum, dan komunitas, tujuannya agar lebih banyak dapat masukan-masukan tentang dunia fotografi dan promosi.

Hubungan Dengan Client?
Cara untuk memuaskan client dan menjaga loyalitasnyan adalah dengan lebih mengenal client, contohnya dalam perbincangan dengan client sering menyebut nama daripada “kamu” dan “anda”, karena client jadi lebih dihargai. Dalam memberikan informasi tentang foto yang akan dihasilkan kepada client kita harus bicara seadanya tentang kemampuan foto kita, dan memperlihatkan stok foto, agar mereka tahu spesifikasi fotografer itu sendiri, dan tetap menjaga hubungan baik dengan client setelah pemotetran. Selain itu, dari sisi costumer, fotografer harus dapat memenuhi tiga hal, yaitu cost (biaya), convenience (, dan costumer solution (solusi yang ditawarkan kepada costumer untuk kepuasannya).

Marketing Dalam Binis Fotografi?
Fotografer dalam marketing atau kabar job dapat d iperoleh antar sesama fotografer, disebut juga Community Based Marketing, yaitu ada forum atau komunitas dan di komunitas itu saling memberi kabar tentang job selanjutnya.

Sistem Yang Diterapkan Dalam Menjalankan Bisnis Fotografi?
Dalam usaha fotografi ada baiknya diterapkan sistem freelance, karena lebih memudahkan manajemennya, seperti tidak harus memikirkan penggajian karyawan, kantor, dan ketidakpastian income per hari atau per bulan untuk menutup biaya-biaya tersebut, karena bisns fotografi sendiri seringnya lebih ke job order.

Disamping itu, dengan danya fotografer-fotografer baru dapat meningkatkan komunitas atau asosiasi dari fotografer itu sendiri, dan secara tidak langsung dapat menjadikan komunitas tersebut sebuah marketing atau istilahnya mouth of marketingnya semakin banyak dan berjalan.

Selasa, 18 Maret 2008

Akses Internet Gratis di Setiap Bungkus Nasi Kucing

Artikel ini dibuat berdasarkan diskusi dalam mingguan ”Bincang Wirausaha”, episode 24 Ferbruari 2008, kerjasama antara I-Radio Jogja dan Smart Corner Club MM UGM Yogyakarta.

Narasumber: Iwan (Angkringan JMN)

Akademisi: Indra & Primadi (Smart Corner Club MM UGM Yogyakarta)

Angkringan JMN: Akses Internet Gratis di Setiap Bungkus Nasi Kucing

Angkringan, Warung Koboi, Kucingan, atau Café Ceret Telu, demikian orang menamai tempat ini. Apapun istilahnya tetapi maksudnya sama yakni warung makanan yang berwujud gerobak kayu berisi aneka makanan dan tiga buah ceret, beratap tenda plastik warna oranye atau biru yang dikelilingi kursi kayu panjang dan diterangi lampu senthir (lampu minyak).

Menilik dari menu yang disajikan tentu yang tersaji di sini bukan makanan laiknya hidangan di restoran kelas atas. Tempe, Timus, serta Ceker maupun Wedang Jahe tak lupa Nasi Kucingnya, merupakan gambaran dari mana angkringan berasal. Demikianlah kombinasi antara makanan dan minuman rakyat desa ini tersaji di kota-kota melalui warung angkring.
Angkringan walau sering dicap sebagai warung rendahan memiliki konsumen yang beragam, mulai dari penduduk pribumi jogja, sopir bus kota, tukang becak, pekerja kasar, seniman, budayawan, juga tidak ketinggalan mahasiswa dan dosen bahkan masyarakat kelas eksekutif.

Bisnis angkringan ini ternyata menggelitik hati tiga orang ini, Iwan, Dinda dan Vindra. Mereka mencoba peruntungan di bisnis angkringan ini. Dengan semangat jiwa muda yang membara, lahirlah sebuah angkringan. Mereka memilih lokasi angkringan di sekitaran kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lebih tepatnya lagi berada di depan kantor Jogja Media Net (Perusahaan Penyedia Jasa Layanan Internet dan TV Berlangganan). Lantaran inilah, banyak sekali orang yang menyebut nama ankringan ini sebagai Angkringan JMN.

Tapi angkringan yang mereka buat terlihat tidak biasa. Mereka mencoba menawarkan supporting product (produk pendukung) selain makan dan minuman, sebagai stimulus bagi konsumen. Mereka menambahkan akses internet gratis (hotspot) sebagai supporting produknya. Hal ini merupakan suatu kebetulan ketika mereka memilih lokasi tepat di depan perusahaan penyedia jasa jaringan internet, akhirnya mereka mendapatkan fasilitas hotspot tersebut. Apa yang mereka lakukan merupakan sebuah terobosan luar biasa dalam industri angkringan di Jogja.

Angkringan JMN yang dijalankan oleh ketiga orang ini bisa dikatakan sebagai angkringan mandiri. Mereka menyiapkan sendiri segala macam menu yang mereka tawarkan. Penggolangan ini sesuai hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Aloysius Gunadi Brata dari Lembaga Penelitian Universitas Atma Jaya pada tahun 2004. Peneliti menyebutkan bahwa berdasarkan pada tingkat kemandirian dalam hal gerobak angkringan, maupun makanan ataupun minuman yang dijual, angkringan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. mandiri, jika pedagang memiliki angkringan sekaligus menyiapkan makanan utama dan minuman sendiri, kendati tetap dan selalu menerima makanan titipan
  2. semi mandiri, jika memimiliki angkringan sendiri tetapi makanan dan minuman dipasok orang lain
  3. non-mandiri, penjual menyewa gerobak sekaligus isinya sehingga sifatnya hanya menjual saja.
  4. Target pasar Angkringan JMN ini sendiri adalah kalangan menengah keatas. Hal ini wajar, sebab tempat ini juga menyediakan fasilitas hot spot, yang tentunya hanya bisa diakses konsumen yang memiliki laptop pribadi. Alasan lainya adalah, sebenarnya konsumen menengah keatas masih ingin tetap menikmati suasana akringan yang bersahaja namun mereka ingin menikmati fasilitas hotspot. Tentunya hal ini menjadikan harga yang ditawarkan sedikit lebih tinggi jika dibanding angkringan biasa, yang lazim kita temui di Kota Jogja.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan bagi setiap pengusaha adalah bagaimana cara Angkringan JMN mengkomunikasikan tempat usaha ataupun produk mereka. Angkringan JMN melakukan komunikasi pemasaran melalui metode viral marketing (word of mouth dan blogspot). Bahkan yang menarik, tidak sedikit pelanggan yang setelah datang dan menikmati hidangan yang ditawarkan, dengan sukarela menulis beberapa artikel mengenai tempat ini, lalu merekomendasikannya kepada konsumen lainnya.

Selain makanan dan minuman serta akses internet gratis, Angkringan JMN juga menawarkan pelayanan yang sangat bersahabat bagi pelanggannya. Angkringan JMN selalu berusaha memperlakukan pelanggan dengan baik, sehingga pelanggan merasa seperti berada dirumah sendiri, nyaman, rileks dan penuh rasa kekeluargaan.

Menambah atau memperoleh penghasilan adalah motivasi utama menjadi pedagang angkringan. Hal ini berlaku baik pada pedagang angkringan yang berasal dari Jogja sendiri maupun yang merupakan pendatang seperti Klaten dan derah di sekitar Jogja. Hal menarik lain dari diskusi yang dilakukan dengan nara sumber, adalah bahwa pengusaha harus berpikir inovatif. Kunci inilah yang menjadikan keunggulan kompetitif sebagai modal bersaing dalam industri sejenis. Peter Drucker, yang sering disebut sebagai guru manajemen pernah mengatakan bahwa:

Dalam setiap bisnis, hanya pemasaran dan inovasi yang menghasilkan pendapatan; yang lain hanya menciptakan biaya.

Selamat berwirausaha. Tetap semangat !!! (INDRA BP).

Rabu, 30 Januari 2008

Review Bincang Wirausaha i-radio 27 Jan 08


Reviewer : Maria Retno Dwi Jayanti, S.T.
www.mariaretnos.blogspot.com

PT. INFOBUMI CITRATAMA
Merupakan perusahaan pemetaan bumi dengan teknik geodesi yang bertujuan untuk mengembangkan wilayah, tata ruang kota, pemekaran dan lain-lain. Dengan kondisi persaingan yang sempurna dan segmen pasar yang sangat terbatas, tim yang terdiri dari 4 orang ini memberikan informasi yang berupa hasil olahan dari teknologi. Dengan bermodalkan keahlian, seperangkat komputer dan software, mereka mampu membangun usaha dan berkembang hingga saat ini.

Strategi yang direkomendasikan:

1. Sosialisasi, karena sejak dua tahun yang lalu hingga saat ini segmennya masih pemkot dan pemda;
2. Jangan bergantung pada tender pemerintah.


Faktor sukses :


1. Kuantitas cakupan luas wilayah;
2. Kualitas, dari ketepatan informasi dan keandalan dalam memberikan solusi.


Manajemen yang baik didalam perusahaan ini harus mengetahui teknik-teknik dasar dari pemetaan meskipun tidak harus memiliki latarbelakang geodasi, jadi siapapun dan dengan latar belakang pendidikan apapun dapat belajar mengenai geodesi.


Akademisi: Dias; Doktrin
Narasumber : Budi Prasetyo Utomo, S.T.






Jumat, 14 September 2007

Welcome Note From Smart Corner's Chairwoman



Welcome to Smart Corner’s Blog!

Besides the great lectures and all the best facilities students receive in MM UGM, the best advantage of being an MM UGM student is the student clubs. Seems odd at first knowing that a graduate school like MM UGM has student clubs. Are graduate school students too old and too professional for these clubs? Do we still have time for these social events?

Those words above are very common for MM UGM freshman. Not to forget me myself. But usually by the time a student passes pra-MM and starting trimester 1 you get the need to want to know others in this one of the best business school in Indonesia. Your logic starts to say that you are in the middle of the best and most selected people in Indonesia. You start to think that knowing these people won’t hurt and one day when you’re in need of help will save your career or even life in the future. And finally you think that this is maybe your last chance to meet and befriended with people that would be true to you. Thinking that in the working world who will be truly true to you?

So, this is where the logic of having student clubs in MM UGM make sense. Joining an MM UGM student club is not just an opportunity to actualize a hobby or thought, but its an opportunity to truly meet and know people. In simple language, it’s a place where we can make friends!

From all the great student clubs in MM UGM, there is Smart Corner Club. Okay, we don’t have a cool name like the other clubs and don’t be afraid of the “Smart” in the name. The club is not just for smart people, so don’t worry.. Smart Corner is a club which works with actual businesses around its society in Yogyakarta. “Smart” is because in this club we have the opportunity to actualize business theories to practice. Working with a local radio station (currently I radio) club members have the opportunity to be business consultants to local businesses. Giving on air advice to improve or how to create a business.

Besides on air activities, Smart Corner also organizes off air activities such as talk shows, seminars and workshops dealing with actual business practices. Business theories and its practice are two different worlds which is always interesting to discuss. And that is what Smart Corner is all about, theories are just one side of the story, there is also the practice.

In Smart Corner we make every business possible to practice, every idea come true and making true friends is not just a theory!

This blog is not just theory, its actual practice! Enjoy.




Regards,

Andeen!