Selasa, 22 Juli 2008

Bincang Wira Usaha 200708



REVIEW BINCANG WIRAUSAHA
20 Juli 2008 (19.00 – 20.00 WIB)
I radio - 88.7 FM

Praktisi : -
Akademisi : Lusi, Mera dan Sigit (batch 47)
Penyiar : Panji Taruno
Tema : Strategi Layout
Reviewer : Kiky (batch 48)

Swalayan Kopma UGM

KOPMA UGM memiliki perluasan unit usaha dengan membuka swalayan, wartel, dan bahkan cafe yang sering digunakan sebagai tempat nonton bareng dan acara musik. Swalayan KOPMA UGM terletak Jl. Kaliurang, tepatnya di depan Perpustakaan lama UGM. Swalayan KOPMA UGM ini menawarkan berbagai macam kebutuhan mahasiswa mulai dari alat tulis dan buku, keperluan sehari-hari (consumer goods) dan beberapa jenis merchandise yang bertuliskan UGM. Strategi dari diferensiasi produk yang dijual di Swalayan KOPMA UGM menjadikannya berbeda dari KOPMA lain. Strategi ini juga dapat memperluas jangkauan konsumen yang akan diraih, karena selain menjual ATK dan merchandise UGM, juga menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian, Swalayan KOPMA UGM tidak dikhususkan untuk mahasiswa UGM tetapi juga untuk umum. Swalayan KOPMA UGM sendiri belum berencana untuk membuka cabang. Swalayan KOPMA UGM ini merencanakan untuk memperluas space yang ada untuk menambah semakin banyak barang yang ditawarkan dan memberi kenyamana dalam berbelanja.

Layout merupakan tata letak semua fasilitas produksi yang ada di perusahaan dan hal ini mengikuti karakteristik produk. Keputusan layout ini merupakan keputusan efisiensi dengan adanya pertimbangan atas biaya yang berhubungan dengan kebijakan jangka menengah atau jangka panjang. Adanya konsep minimalis dalam arti bagaimana menataletakkan fasilitas produksi dengan semaksimal mungkin dan membantu terwujudanya competitive advantage perusahaan (cost leadership, differentiation dan quick response). Citra apa yang akan ditampilkan perusahaan kepada konsumennya juga menjadi bagian dari keputusan layout.

Swalayan KOPMA UGM sendiri dari segi layout yang berbentuk L, bisa dikatakan belum tepat dan efektif. Dengan layout seperti ini membuat banyak barang di belakang, seperti kebutuhan sehari-hari terhalang oleh barang-barang yang didepan seperti ATK dan merchandise UGM. Swalayan KOPMA UGM pun masih mengedepankan merchandise dan ATK sebagai prioritas produk yang ditawarkan sehingga meletakkannya pada bagian depan, yang bisa langsung terlihat ketika berada di pintu masuk. Sedangkan barang kebutuhan sehari-hari terletak di belakang, yang membuat konsumen harus berjalan ke bagian belakan swalayan. Hal ini bisa membuat konsumen malas untuk menjangkaunya, padahal ada kemungkinan yang disasar konsumen adalah kebutuhan sehari-hari. Namun dari segi pengelompokan barang untuk memudahkan konsumen mengetahui dengan cepat dimana barang yang akan dibeli sudah bagus. Flow masuk dan keluar konsumen juga sudah dibuat sebaik mungkin. Swalayan KOPMA UGM memberikan kenyamanan bagi pelanggannya untuk berbelanja dengan meberikan rak dengan 50-100 cm, yang memudahkan konsumen mengambil barang tanpa harus mengantri.

Berbicara tentang layout ada 5 hal yang perlu diperhatikan :
1. Perlu untuk memaksimalkan pemakaian ruang sehingga tidak ada ruang yang tidak terpakai (no idle space). Dengan kata lain perlu meningkatkan utilisasi space dan hal ini berhubungan dengan efisiensi.
2. Mendukung kemudahan aliran informasi baik material maupun orang-orangnya.
3. Kondisi ruang dan letak yang bisa memberi kemudahan dan kenyamanan bagi konsumen.
4. Flexibilitas ruang dan working of flow.
5. Memberi kemudahan untuk berinteraksi dengan konsumen.

Cara mendesain layout dari suatu usaha, seperti retail antara lain :
1. Barang yang memiliki potensi tinggi untuk dijual perlu ditonjolkan didepan, mudah dilihat dan dijangkau. Strategi retail adalah semakin banyak produk yang bisa diakses oleh mata konsumen maka semakin tinggi probabilitas orang untuk tertarik dan membeli, terutama jika karakteristik konsumen yang impulse buying. Sehingga pihak retailer perlu memiliki kemampuan untuk memajang produk sebanyak mungkin.
2. Adanya pengelompokan barang untuk menjaga kualitas dari produk yang dijual. Hal ini menjamin kenyamanan dan kemudahan konsumen dalam mencari barang yang akan dibeli. Efisiensi waktu bisa dengan mendekatkan satu dengan yang lain sehingga memungkinkan aliran informasi yang cepat dan meminimalkan cost.
3. Segmen menentukan lay out, sehingga lebih fokus pada target marketnya.
4. Lay out juga mempertimbangkan estetika.
5. Bagi retailer, gudang adalah produk-produk yang dipajang. Karena penumpukan barang yang berlebihan akan menambah biaya maintenance. Peletakan gudang pun perlu strategis sehingga mudah diakses dan konsumen tidak perlu lama menunggu atas barang yang diperlukannya.
6. Flexibilitas kenyamaan dari karyawan dan konsumen.
7. Kelebihan space seperti yang dimiliki oleh Swalayan KOPMA UGM dimanfaatkan untuk menyewakannya kepada pihak lain.

Ketika mendirikan usaha sudah sepatutnya untuk mempertimbangkan lokasi yang dipilih, misalnya dengan memilih lokasi yang strategis. Pihak pengusaha perlu smart dalam memanfaatkan space yang ada dan memaksimalkan utilisasi space yang ada. Pihak retailer misalnya, perlu smart memaksimalkan ruang, gudang, penataan tempat, dan mendukung akses bagi kecepatan aliran informasi, sehingga bisa meminimalkan cost dan memaksimalkan keuntungan dengan memanfaatkan space yang ada. (ky)

Senin, 14 Juli 2008

Review 130708


REVIEW BINCANG WIRAUSAHA
13 Juli 2008 (19.00 – 20.00 WIB)
I radio - 88.7 FM

Praktisi : Hendra (Brand : Jopa Japu; 081.227.018.163)
Akademisi : Doktrin (batch 46), Krisna (batch 48)
Penyiar : Panji
Suvenir untuk : Galih dan Budi
Reviewer : Kiky (batch 48)

Jopa Japu

Jopa Japu bergerak di bidang handicraft dan seni dalam bentuk miniatur kehidupan, yang secara spesifik berupa miniatur aktivitas yang menggambarkan keseharian masyarakat tradisional Jawa, misalnya petani, pengayuh becak, dsb. Berdiri pada 1 Oktober 2002 dengan lokasi outlet adalah di Jl. Wijilan (depan Gudeg Yu Djum). Ilham atau inspirasi pendirian Jopa Japu adalah berasal dari keprihatinan atas kondisi generasi muda saat ini yang mulai merasa asing dengan budaya-budaya Jawa, sehingga Jopa Japu ingin melestarikannya dalam betuk miniatur kegiatan tradisional masyarakat Jawa (petani, mendorong gerobak, dsb).

Media yang digunakan adalah kayu. Teknik yang digunakan adalah dengan menggunakan gergaji. Ada pula yang kemudian dikombinasikan dengan tanah liat (misalnya untuk membuat patung). Cara pembuatannya secara umum adalah dengan menggergaji pola dari bagian-bagian tertentu (misalnya pola tangan, kaki, kepala, dsb), kemudian dirapikan dengan menggunakan cutter, setelah itu diwarnai dengan menggunakan cat dan akhirnya bagian-bagian tersebut disatukan dengan lem. Setelah seluruh bagian disatukan dilakukan penyusunan tema, ingin dibuat seperti apa. Seni yang dipakai adalah seni liping, yang merupakan plesetan dari bahasa Inggris (living) yang berarti kehidupan.

Latar belakang dari personil Jopa Japu justru tidak memiliki pendidikan seni. Mereka belajar secara otodidak. Jopa Japu sendiri terdiri dari 7 orang dan modalnya merupakan gabungan dari ketujuh orang ini dan secara bergantian.

Peluang bisnis dari Jopa Japu adalah merupakan UKM yang tidak menggunakan modal besar untuk memulainya dan ide awalnya muncul dari sebuah kreativitas. Market dari seni liping ini adalah niche market atau dengan kata lain segmentasi yang sangat khusus. Target yang dituju adalah high class, pecinta travelling misalnya ke Jogja, yang merupakan pusat seni dan kerajinan. Pelanggan Jopa Japu adalah turis dalam dan luar negeri, seniman, orang yang ingin memajang sesuatu yang unik di kantornya,dsb. Barang yang diproduksi sangat customized dengan ide bisa dari customer untuk membuat seperti apa atau juga dari Jopa Japu, sehingga ide itu mengalir terus. Dengan demikian product life cycle–nya bisa dikatakan sangat tinggi. Kelebihan dari Jopa Japu sendiri adalah konsumen bisa memesan dengan permintaan agar tidak direproduksi lagi untuk konsumen lain. Produksi Jopa Japu sendiri sekitar 2000 miniatur per bulan. Buyer tetap dengan skala permintaan yang tinggi tidak ada (belum bisa melayani) karena pengerjaannya yang handmade dengan jumlah personil yang terbatas.

Strategi lokasi dari Jopa Japu yang terletak di Jl. Wijilan bisa dikatakan tepat untuk bisa menjangkau segmen yang dituju. Outlet dengan luas bangunan 3x3 meter ini bisa dikatakan memenuhi lokasi strategis yang terletak di tengah kota. Umumnya turis pasti berkunjung ke daerah tengah kota. Turis yang datang ke Jogja biasanya berwisata kuliner untuk mencari makanan khas Jogja, misalnya gudeg. Pusat gudeg berada di daerah Wijilan. Lokasi Jopa Japu sendiri terletak di depan penjual gudeg terkenal (Yu Djum) yang menjadi referensi orang ketika ingin makan gudeg. Outlet Jopa Japu yang berwarna kuning (warna yang kontras dibanding sekitarnya) dapat menarik perhatian pengunjung untuk setidaknya berkunjung dan mengetahui apa sebenarnya Jopa Japu, ketika rasa tertarik sudah muncul maka bisa membangkitkan keinginan untuk memesan miniatur kehidupan di Jopa Japu. Jopa Japu sendiri hanya mendirikan satu outlet untuk sementara ini dan tidak menutup kemungkinan untuk membuka cabang di daerah lain yang dianggap cocok dan tepat untuk target segmennya.

Berbicara tentang marketing tidak lepas dari STP (Segmenting, Targeting dan Positioning). Penentuan segmen yang jelas akan membantu untuk diterimanya sebuah produk. Segmen untuk Jopa Japu adalah untuk turis diluar wilayah Jogja secara geografis, kalangan menengah atas dengan usia tertentu secara demografis, dan dengan lifestyle pecinta seni secara psikografis. Karena sifatnya adalah barang seni yang bernilai tinggi maka produk Jopa Japu sendiri cocok untuk segmen menengah atas yang secara ekonomi sudah mapan. Proses segmenting ini akan tepat jika dilakukan marketing research dan terus dilakukan secara berkala untuk mengantisispasi apabila ada perubahan selera pasar.

Sifat yang unik dengan niche market dari Jopa Japu, bisa dikatakan Jopa Japu tidak memiliki pesaing. Namun yang perlu disadari adalah seni ini bersifat substitusi dengan seni pahat atau seni ukir, sehingga bisa membuat konsumen membandingkan satu dengan yang lain. Apabila tidak ditunjang dengan marketing yang baik dan tepat bisa membuat Jopa Japu ini kalah saing dengan seni lainnya yang bersifat substitusi. Peniruan atas produk Jopa Japu pernah terjadi tetapi dari segi kualitas dengan feel dari produk tiruan tersebut jauh berbeda dengan produk Jopa Japu. Dipicu oleh hal ini, maka kedepannya Jopa Japu akan memproteksi produknya dengan menggunakan hak paten. Peniruan produk ini bisa dikatakan sebagai kompetitor dengan bermunculannya follower dan membuat produk Jopa Japu bisa berkembang. Konsumen akan membandingkan mana yang lebih berkualitas. Sehingga sebenarnya Jopa Japu tidak perlu khawatir akan penetapan harga yang dilakukan. Pricing strategy sebenarnya terbentuk oleh adanya Supply and Demand dan harga umumnya berbanding lurus dengan kualitas. Dan karena produknya adalah barang yang benilai seni yang ditujukan kepada kalangan menengah atas yang umumnya tidak price sensitive.

Hasil produksi yang bisa dianggap istimewa atau “wah” dari Jopa Japu adalah miniatur wayang kulit dan catur. Keduanya sudah mempunyai prestasi yaitu untuk miniatur catur mendapat Juara I Handicraft Nasional (2005) dan miniatur wayang mendapat juara yang sama pada tahun 2006. Rencana ke depan adalah untuk mendapatkan Rekor MURI berupa miniatur Malioboro (pada saat 1900-1930) dan terobosan produk yang akan diproduksi dalam waktu dekat adalah membuat miniatur Borobudur dengan ukuran besar. (ky)

Sabtu, 07 Juni 2008

Kelapa Aren



Bincang Usaha Wirausaha: 01 Juni 2008


Akademisi: Dias dan Dimas



Reviewer: Ramaniko


Kelapa Aren

Company Profile
Kelapa Aren adalah UKM yang bergerak di bidang kerajinan dari pohon kelapa, produksinya berupa alat-alat rumah tangga dan kantor, seperti asbak kayu, piring kayu, mangkok kayu, dan gelas kayu. UKM ini berlokasi di gamping dekat STIKES A Yani dan sudah berdiri sejak tahun 1996. Awal mula berdirinya UKM ini, pada waktu itu ada turis Australia yang sedang mencari pengrajin yang dapat membuat piring dari kayu, kemudian berdirilah UKM ini untuk memenuhi permintaan konsumen tersebut.
Proses produksinya berawal dari design produk, kemudian ada yang memotong kayu gelondongan menjadi potongan-potongan kecil, mengeruk (ngroak) kayu, bubut, dan mengamplas kayu, semuanya dikerjakan dengan mesin.
Sistem Kerja dan Pemasaran
Ada dua sistem kerja yang diterapkan, yaitu borongan dan harian. Transaksi barang dapat dilakukan melalui direct cash dan online (transfer bank), karena UKM ini juga melakukan pemasarannya melalui internet, dapat dibuka di alamat situs kelapa-aren.co.cc. Selain itu, pemasaran dilakukan melalui pameran yang diadakan secara berkala tiap tahunnya. Pameran merupakan salah satu metode pemasaran yang paling tepat untuk usaha kerajinan ini karena biasanya para pengunjung pemeran banyak yang berasal dari mancanegara.
Peluang dan rekomendasi
Produk UKM ini dipasarkan di pasar domestic maupun di mancanegara. Peluang yang dimiliki dari usaha ini adalah pasar Eropa, karena konsumen di Eropa mulai beralih ke baarang-barang yang aman buat lingkungan dan terbuat dari alam, dan produk Kelapa Aren sangat cocok dengan situasi pasar di Eropa untuk saat ini.

Senin, 07 April 2008


Review Bincang Wira Usaha 07-04-08
Narasumber : Guntur
Akademisi : Oka dan Doktrin
Reviewer : Ramaniko

Fotografi

Apa Itu Fotografi?
Fotografi adalah proses pembuatan
lukisan dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.

Bagaimana Membangun Bisnis Fotografi?
Bisnis fotografi bagi pemula bisa jadi diawali dengan rugi dulu, dalam hal ini disebabkan kurangnya skill dalam hal fotografi. Akan tetapi, hal ini tidak jadi masalah, karena beberapa kegagalan atau kekurangan tersebut bisa menjadi merupakan batu loncatan kedepan dan seiring berjalannya usaha dapat menambah skill itu sendiri.
Sebagai gambaran dalam membangun bisnis fotografi ini, hal pertama yang paling penting adalah foto itu sendiri, kemudian skill dan modal semuanya dapat menyusul. Biasanya berawal dari hobi terus dikembangkan jadi usaha, jadi tidak ada paksaan untuk bekerja. Awal usaha yang dapat dikembangkan dari fotografi ini modal, ada dua jenis modal, tangible (berbentuk atau alat itu sendiri) dan intangible (skill fotografi). Selain itu, di dalam bisnis fotografi berkaitan dengan teknologi, dan ini memiliki PLC (Product Life Cycle) yang pendek, maka dari itu fotografer harus memiliki banyak inovasi agar produknya jadi lebih menarik seara berkala.

Untuk fotografer baru, agar lebih sering sharing dengan senior-seniornya, gabung forum, dan komunitas, tujuannya agar lebih banyak dapat masukan-masukan tentang dunia fotografi dan promosi.

Hubungan Dengan Client?
Cara untuk memuaskan client dan menjaga loyalitasnyan adalah dengan lebih mengenal client, contohnya dalam perbincangan dengan client sering menyebut nama daripada “kamu” dan “anda”, karena client jadi lebih dihargai. Dalam memberikan informasi tentang foto yang akan dihasilkan kepada client kita harus bicara seadanya tentang kemampuan foto kita, dan memperlihatkan stok foto, agar mereka tahu spesifikasi fotografer itu sendiri, dan tetap menjaga hubungan baik dengan client setelah pemotetran. Selain itu, dari sisi costumer, fotografer harus dapat memenuhi tiga hal, yaitu cost (biaya), convenience (, dan costumer solution (solusi yang ditawarkan kepada costumer untuk kepuasannya).

Marketing Dalam Binis Fotografi?
Fotografer dalam marketing atau kabar job dapat d iperoleh antar sesama fotografer, disebut juga Community Based Marketing, yaitu ada forum atau komunitas dan di komunitas itu saling memberi kabar tentang job selanjutnya.

Sistem Yang Diterapkan Dalam Menjalankan Bisnis Fotografi?
Dalam usaha fotografi ada baiknya diterapkan sistem freelance, karena lebih memudahkan manajemennya, seperti tidak harus memikirkan penggajian karyawan, kantor, dan ketidakpastian income per hari atau per bulan untuk menutup biaya-biaya tersebut, karena bisns fotografi sendiri seringnya lebih ke job order.

Disamping itu, dengan danya fotografer-fotografer baru dapat meningkatkan komunitas atau asosiasi dari fotografer itu sendiri, dan secara tidak langsung dapat menjadikan komunitas tersebut sebuah marketing atau istilahnya mouth of marketingnya semakin banyak dan berjalan.

Selasa, 18 Maret 2008

Akses Internet Gratis di Setiap Bungkus Nasi Kucing

Artikel ini dibuat berdasarkan diskusi dalam mingguan ”Bincang Wirausaha”, episode 24 Ferbruari 2008, kerjasama antara I-Radio Jogja dan Smart Corner Club MM UGM Yogyakarta.

Narasumber: Iwan (Angkringan JMN)

Akademisi: Indra & Primadi (Smart Corner Club MM UGM Yogyakarta)

Angkringan JMN: Akses Internet Gratis di Setiap Bungkus Nasi Kucing

Angkringan, Warung Koboi, Kucingan, atau Café Ceret Telu, demikian orang menamai tempat ini. Apapun istilahnya tetapi maksudnya sama yakni warung makanan yang berwujud gerobak kayu berisi aneka makanan dan tiga buah ceret, beratap tenda plastik warna oranye atau biru yang dikelilingi kursi kayu panjang dan diterangi lampu senthir (lampu minyak).

Menilik dari menu yang disajikan tentu yang tersaji di sini bukan makanan laiknya hidangan di restoran kelas atas. Tempe, Timus, serta Ceker maupun Wedang Jahe tak lupa Nasi Kucingnya, merupakan gambaran dari mana angkringan berasal. Demikianlah kombinasi antara makanan dan minuman rakyat desa ini tersaji di kota-kota melalui warung angkring.
Angkringan walau sering dicap sebagai warung rendahan memiliki konsumen yang beragam, mulai dari penduduk pribumi jogja, sopir bus kota, tukang becak, pekerja kasar, seniman, budayawan, juga tidak ketinggalan mahasiswa dan dosen bahkan masyarakat kelas eksekutif.

Bisnis angkringan ini ternyata menggelitik hati tiga orang ini, Iwan, Dinda dan Vindra. Mereka mencoba peruntungan di bisnis angkringan ini. Dengan semangat jiwa muda yang membara, lahirlah sebuah angkringan. Mereka memilih lokasi angkringan di sekitaran kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lebih tepatnya lagi berada di depan kantor Jogja Media Net (Perusahaan Penyedia Jasa Layanan Internet dan TV Berlangganan). Lantaran inilah, banyak sekali orang yang menyebut nama ankringan ini sebagai Angkringan JMN.

Tapi angkringan yang mereka buat terlihat tidak biasa. Mereka mencoba menawarkan supporting product (produk pendukung) selain makan dan minuman, sebagai stimulus bagi konsumen. Mereka menambahkan akses internet gratis (hotspot) sebagai supporting produknya. Hal ini merupakan suatu kebetulan ketika mereka memilih lokasi tepat di depan perusahaan penyedia jasa jaringan internet, akhirnya mereka mendapatkan fasilitas hotspot tersebut. Apa yang mereka lakukan merupakan sebuah terobosan luar biasa dalam industri angkringan di Jogja.

Angkringan JMN yang dijalankan oleh ketiga orang ini bisa dikatakan sebagai angkringan mandiri. Mereka menyiapkan sendiri segala macam menu yang mereka tawarkan. Penggolangan ini sesuai hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Aloysius Gunadi Brata dari Lembaga Penelitian Universitas Atma Jaya pada tahun 2004. Peneliti menyebutkan bahwa berdasarkan pada tingkat kemandirian dalam hal gerobak angkringan, maupun makanan ataupun minuman yang dijual, angkringan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. mandiri, jika pedagang memiliki angkringan sekaligus menyiapkan makanan utama dan minuman sendiri, kendati tetap dan selalu menerima makanan titipan
  2. semi mandiri, jika memimiliki angkringan sendiri tetapi makanan dan minuman dipasok orang lain
  3. non-mandiri, penjual menyewa gerobak sekaligus isinya sehingga sifatnya hanya menjual saja.
  4. Target pasar Angkringan JMN ini sendiri adalah kalangan menengah keatas. Hal ini wajar, sebab tempat ini juga menyediakan fasilitas hot spot, yang tentunya hanya bisa diakses konsumen yang memiliki laptop pribadi. Alasan lainya adalah, sebenarnya konsumen menengah keatas masih ingin tetap menikmati suasana akringan yang bersahaja namun mereka ingin menikmati fasilitas hotspot. Tentunya hal ini menjadikan harga yang ditawarkan sedikit lebih tinggi jika dibanding angkringan biasa, yang lazim kita temui di Kota Jogja.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan bagi setiap pengusaha adalah bagaimana cara Angkringan JMN mengkomunikasikan tempat usaha ataupun produk mereka. Angkringan JMN melakukan komunikasi pemasaran melalui metode viral marketing (word of mouth dan blogspot). Bahkan yang menarik, tidak sedikit pelanggan yang setelah datang dan menikmati hidangan yang ditawarkan, dengan sukarela menulis beberapa artikel mengenai tempat ini, lalu merekomendasikannya kepada konsumen lainnya.

Selain makanan dan minuman serta akses internet gratis, Angkringan JMN juga menawarkan pelayanan yang sangat bersahabat bagi pelanggannya. Angkringan JMN selalu berusaha memperlakukan pelanggan dengan baik, sehingga pelanggan merasa seperti berada dirumah sendiri, nyaman, rileks dan penuh rasa kekeluargaan.

Menambah atau memperoleh penghasilan adalah motivasi utama menjadi pedagang angkringan. Hal ini berlaku baik pada pedagang angkringan yang berasal dari Jogja sendiri maupun yang merupakan pendatang seperti Klaten dan derah di sekitar Jogja. Hal menarik lain dari diskusi yang dilakukan dengan nara sumber, adalah bahwa pengusaha harus berpikir inovatif. Kunci inilah yang menjadikan keunggulan kompetitif sebagai modal bersaing dalam industri sejenis. Peter Drucker, yang sering disebut sebagai guru manajemen pernah mengatakan bahwa:

Dalam setiap bisnis, hanya pemasaran dan inovasi yang menghasilkan pendapatan; yang lain hanya menciptakan biaya.

Selamat berwirausaha. Tetap semangat !!! (INDRA BP).

Rabu, 30 Januari 2008

Review Bincang Wirausaha i-radio 27 Jan 08


Reviewer : Maria Retno Dwi Jayanti, S.T.
www.mariaretnos.blogspot.com

PT. INFOBUMI CITRATAMA
Merupakan perusahaan pemetaan bumi dengan teknik geodesi yang bertujuan untuk mengembangkan wilayah, tata ruang kota, pemekaran dan lain-lain. Dengan kondisi persaingan yang sempurna dan segmen pasar yang sangat terbatas, tim yang terdiri dari 4 orang ini memberikan informasi yang berupa hasil olahan dari teknologi. Dengan bermodalkan keahlian, seperangkat komputer dan software, mereka mampu membangun usaha dan berkembang hingga saat ini.

Strategi yang direkomendasikan:

1. Sosialisasi, karena sejak dua tahun yang lalu hingga saat ini segmennya masih pemkot dan pemda;
2. Jangan bergantung pada tender pemerintah.


Faktor sukses :


1. Kuantitas cakupan luas wilayah;
2. Kualitas, dari ketepatan informasi dan keandalan dalam memberikan solusi.


Manajemen yang baik didalam perusahaan ini harus mengetahui teknik-teknik dasar dari pemetaan meskipun tidak harus memiliki latarbelakang geodasi, jadi siapapun dan dengan latar belakang pendidikan apapun dapat belajar mengenai geodesi.


Akademisi: Dias; Doktrin
Narasumber : Budi Prasetyo Utomo, S.T.